Barometernews.com, Lampung Selatan – Arus balik Lebaran 2026 di kawasan Bakauheni, Lampung Selatan, mengalami kemacetan. Ribuan kendaraan, khususnya truck angkutan sembako, buah-buahan, dan sayuran, tertahan hingga satu hari penuh.
Terpantau, kemacetan mulai terjadi sejak Rabu malam (25/3) dan terus berlanjut hingga Kamis (26/3). Antrean kendaraan mengular lebih dari 2 kilometer, berpusat di akses menuju Pelabuhan BBJ dan Pelabuhan Sumur Makmur Abadi (SMA).
Tak hanya di Jalan Lintas Sumatera, kondisi di Jalan Lintas Timur, tepatnya di Desa Sumur, juga dilaporkan semrawut. Terpantau sejumlah kendaraan nekat melawan arus, yang mengakibatkan kemacetan di lokasi tersebut bertambah parah.
Akibatnya, muatan sembako serta hasil pertanian seperti buah dan sayuran mulai mengalami pembusukan. Para sopir dan pemilik barang mengaku mengalami kerugian besar yang diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah.
Sejumlah sopir menyebut kemacetan dipicu oleh sistem pengaturan yang mewajibkan seluruh truk barang melakukan pemindaian tiket (scan) di Pelabuhan BBJ, sebelum kemudian diarahkan ke Pelabuhan Sumur Makmur Abadi.
“Sudah antre lama, setelah scan malah dialihkan lagi. Ini yang bikin macet makin panjang,” ujar Hongki, salah satu sopir truck pengangkut buah.
Hal senada disampaikan Reno, pemilik barang, yang mengaku merugi besar akibat keterlambatan distribusi. Cetusnya
Menjadi pertanyaan, Pelabuhan Wika Beton yang sebelumnya ditunjuk untuk membantu angkutan Lebaran justru tidak difungsikan sejak awal arus balik. Area parkir yang diperkirakan mampu menampung 200 hingga 300 truk terlihat kosong.
Pelabuhan tersebut baru mulai dioperasikan setelah kondisi di Jalan Lintas Timur mengalami kepadatan parah.
Situasi berangsur membaik setelah dua kapal tambahan dikerahkan untuk mengurai antrean kendaraan. Meski demikian, kemacetan sempat menimbulkan dampak signifikan terhadap distribusi logistik.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala KSOP Bakauheni, Suratno, belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pasti serta penanganan terkait kemacetan tersebut.
(*)
